Raih Duit Lokal, Kemkeu Perbesar Obligasi Ritel

Raih Duit Lokal, Kemkeu Perbesar Obligasi Ritel

JAKARTA. Pemerintah tidak mau ketinggalan dengan langkah bank sentral yang telah mengaktifkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 9 dan 12 bulan. Untuk itu Kementerian Keuangan (Kemkeu) mengaku akan menerbitkan tiga jenis surat berharga negara (SBN) ritel pada semester kedua tahun ini. Selain untuk diversifikasi surat utang, tiga jenis SBN ritel diterbitkan untuk memperkuat posisi investor dalam negeri, khususnya ritel dan mengurangi porsi asing di surat berharga negara (SBN). Ketiga SBN ritel yang dimaksud, yakni saving bond ritel (SBR), Obligasi Ritel (ORI), dan sukuk tabungan. Dua dari tiga SBN ritel tersebut, rencananya akan terbit secara online.

“Yang akan diterbitkan online SBR dan sukuk tabungan, yang offline ORI,” kata Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Loto Srinaita Ginting kepada KONTAN, Senin (23/7). SBN ritel yang akan terbit dalam waktu dekat, yaitu SBR seri SBR004 dan disusul penerbitan ORI. Terakhir, penerbitan sukuk tabungan. Sayangnya, Loto masih enggan menjelaskan lebih terperinci kapan masing-masing SBN ritel itu akan diterbitkan. Loto juga masih enggan menyebut target nilai dari masing-masing obligasi. Namun Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu Scenaider Siahaan bilang, target SBR004 mencapai dua kali lipat dari SBR sebelumnya. Sebelumnya pada Mei 2018, pemerintah berhasil meraup Rp 1,9 triliun melalui penjualan SBR003 secara online. Jumlah itu lebih tinggi dari target indikatif awal Rp 1 triliun. Kurangi asing Scenaider menambahkan, pemerintah ingin meningkatkan dan memperdalam pasar SBN domestik di tengah situasi global yang tidak pasti.

 

Utamanya, melalui penerbitan SBN ritel pada semester kedua tahun ini. “Domestik sekarang kami mau garap maksimal. Harapan kami ke depan, domestik bisa membiayai semua pembiayaan kita,” tandas Scneider. Saat ini porsi investor ritel dalam negeri masih minim, hanya Rp 62,67 triliun atau 2,81% dari total SBN yang diperdagangkan. Bersamaan itu, pemerintah juga ingin menekan porsi asing di SBN yang kini mencapai Rp 841,80 triliun atau sebesar 37,83% dari total SBN (lihat diagram). Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, penerbitan SBN ritel cukup baik untuk tujuan pendalaman pasar keuangan di dalam negeri. Namun, menurutnya, pemerintah belum bisa berharap banyak dari investor ritel. Sebab, “Dari potensinya tidak terlalu besar,” kata Lana. Hal itu lantaran kemampuan pasar ritel yang terbatas. Mulai dari belum cukupnya pemahaman mengenai investasi di obligasi, hingga kepemilikan dana. Apalagi SBN ritel yang diterbitkan secara online lebih menyasar para kaum millenial. Di sisi lain dengan penerbitan SBN ritel, pemerintah memiliki posisi tawar yang lebih baik. Itu artinya, pemerintah bisa menawarkan kupon yang tidak terlalu mahal untuk obligasinya tersebut. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, investor cenderung menyukai investasi di deposito. Karena, menurut Lana, imbal hasil sudah lumayan pasca kenaikan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Chief Economist Standard Chartered Aldian Taloputra mengapresiasi rencana Kemkeu menambah SBN ritel tersebut. Pemerintah memang sudah seharusnya memperluas basis investor, terutama domestik agar porsi asing di SBN berkurang. Ini akan mengurangi risiko volatilitas suku bunga global seperti saat ini karena investor domestik bisa semakin diandalkan.