Program IVF Rahim Diikat & Bedrest

Program IVF Rahim Diikat & Bedrest

originals.id – “Masuk tahun 2013, kembali saya siap untuk hamil. Karena sudah tahu kondisi saya seperti itu, saya kembali melakukan program IVF. Melalui program kehamilan kedua, saya mendapatkan sembilan embrio, tetapi yang ditransfer saat itu tiga. Jadi saya masih punya enam embryo freezing. Waktu program IVF pertama, saya merasa tidak membutuhkan embryo freezing. Tapi setelah konsultasi dengan dokter, menurutnya, jika dilihat dari riwayat saya yang susah hamil, sangat disayangkan jika tidak melakukan embryo freezing.

Sebab untuk kehamilan berikutnya, saya tidak perlu melakukan program IVF dari awal lagi. Nah, karena itu pada kehamilan kali ini saya tinggal mengambil tiga di antara enam embrio yang sudah ada. Saat itu menurut dokter hanya dua yang ditransfer karena satu embrio kurang bagus. Jadi, saat itu saya tidak menjalankan IVF dari awal seperti kehamilan kedua.

Syukurnya, kedua embrio yang ditransfer tersebut berkembang. Tapi, lagi-lagi saat kehamilan ketiga ini saya mengalami vlek, walau sedikit tetap saja perdarahan namanya dan tidak bisa dianggap remeh. Karena sudah punya pengalaman sebelumnya, saya langsung periksakan diri ke rumah sakit dan oleh pihak UGD dikonsulkan ke dr. Nurwansyah, SpOG. Setelah diperiksa dan saya ceritakan kepada dokter tentang dua kehamilan saya sebelumnya, sebab dokter kali ini tidak menangani saya saat kehamilan pertama dan kedua, lalu dokter melakukan pemeriksaan lebih saksama.

Hasilnya baru terdeteksi mulut rahim saya pendek sehingga tidak kuat menopang kehamilan. Kondisi inilah yang dicurigai menjadi penyebab kegagalan kehamilan pertama dan kedua saya. Untuk mengatasi kondisi ini, dokter mengikat mulut rahim saya di kehamilan minggu ke-18. Selain itu, dari minggu ke-9 sampai ke-16, saya mendapat treatment suntik penguat rahim dan infus vitamin seminggu dua kali, juga bedrest di rumah. Di minggu ke-18 itu pun, ketika dokter sedang melakukan tindakan pengikatan mulut rahim, terdeteksi posisi bayi sudah di bawah.

Tentu dokter semakin meminta saya untuk tetap bedrest. Minggu ke-26 saat kontrol, eh ikatan rahim agak lepas yang disebabkan kedua anak saya aktif sekali dan rahim tidak kuat menopang berat janin. Melihat kondisi sudah sejauh itu, dokter benar-benar tidak memberikan toleransi kepada saya. Saya harus bedrest total di rumah sakit. Jika bedrest di rumah, dokter ragu dengan kedisiplinan saya.

Jadi tanggal 21 November 2013 minggu ke-26, saya masuk rumah sakit untuk bedrest total dengan pengawasan penuh tenaga medis hingga proses persalinan tiba. Saya pun mendapatkan suntikan penguat paruparu untuk janin setiap minggu, dari saat masuk rumah sakit sampai sebelum melahirkan untuk mengantisipasi terjadinya melahirkan sewaktu-waktu.

Walau agak menolak, saya tetap harus melakukannya dan menguatkan diri supaya bisa menghadirkan buah hati di tengahtengah keluarga. Juga, saya harus berusaha kehamilan ini sukses sebagai ucapan syukur pada Tuhan, yang akhirnya bisa memberikan solusi atas apa yang terjadi pada saya, termasuk mempertemukan saya dengan dr. Nurwansyah, SpOG. Lewat tangannya, akhirnya bisa ditemukan apa penyebab perdarahan setiap kali saya hamil.”