Pasar Saham Teperngaruh Dengan Pemilu dan Suku Bunga

Indonesia memasuki pesta politik. Kemarin, masa kampanye pemilihan umum (pemilu) 2019 resmi dimulai. Perkembangan politik masa kampanye ikut mempengaruhi gerak pasar finansial dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Era politik ini sekaligus menambah panjang daftar sentimen yang selama ini membayangi pasar saham. Sebut saja sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pasar juga terus mengamati kebijakan moneter Bank Indonesia dan The Fed.

Yang terdekat, pelaku pasar menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI). Pelaku pasar menunggu kebijakan suku bunga bank sentral tersebut. Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji meyakini, The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps). Hal ini akan membuat dana investor mengalir masuk ke pasar AS. Alhasil, pasar dalam negeri berpeluang tertekan lagi. Tekanan terhadap pasar saham juga akan bergantung pada hasil RDG-BI. Analis Reliance Sekuritas Aji Setiawan memprediksi BI akan ikut menaikkan BI 7-day repo rate (7-DRR) sebesar 25 bps. Bila ini yang terjadi, tekanan di pasar saham tidak akan terlalu dalam.

Jangka pendek
Lalu, bagaimana sebaiknya investor menyikapi pergerakan di pasar saham? Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe menilai investor tak perlu khawatir. Tekanan di pasar hanya akan berlangsung jangka pendek. Alasan Kiswoyo, pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed dan BI. “Menurut saya investor tak perlu khawatir dengan kenaikan suku bunga, jika IHSG turun, justru menurut saya adalah saat untuk membeli,” kata dia, Minggu (23/9).

Kiswoyo juga menyarankan investor tidak perlu mengkhawatirkan pelaksanaan kampanye dan pemilihan umum. Ia menilai, dampak proses pemilu terhadap saham tidak akan besar. Syaratnya, stabilitas terjaga dan tidak ada keributan selama masa kampanye. Namun bila terjadi ricuh, pasar saham bakal tertekan. Oleh karena itu, para investor harus tetap mewaspadai perkembangan proses pelaksanaan pemilu. Nafan menyebut, investor juga bisa melakukan akumulasi saham secara selektif.

Nafan menilai pemilu akan meningkatkan daya beli masyarakat. Karena itu, saham konsumer seperti GGRM, ICBP dan INDF bisa dipertimbangkan. Saham konstruksi pelat merah juga menarik. Kiswoyo menyarankan investor mulai masuk ke sahamsaham bluechip. Terutama saham-saham bluechip yang masih cenderung murah. Aji merekomendasikan investor agar wait and see, menunggu hasil dari rapat FOMC dan RDG-BI. Ia menargetkan IHSG berada di level 6.258 di akhir tahun nanti.