Anak Pun Bisa Terserang Stroke Bagian 2

Anak Pun Bisa Terserang Stroke Bagian 2

sat-jakarta.com – Bila pembuluh darah pecah pada sistem bicara, masalah akan terjadi pada kemampuan bicara, misalnya menjadi cadel. Kemudian, bila pembuluh darah pecah pada sistem keseimbangan yang terjadi adalah kemampuan berjalan tak stabil. Gejala lain, terasa “kesemutan”, kebas, wajah tidak simetris. Selain itu, ada gejala serangan otak sepintas, misalnya menjadi cadel. Akan tetapi, 10 menit kemudian kembali normal. Nah, gejala seperti ini waktunya berbedabeda, bahkan ada yang sampai 1-2 jam. Kendalanya, anak-anak, terutama bayi mungkin belum dapat mengungkapkan atau mengeskpresikan gangguan rasa yang dialaminya itu.

Keterbatasan pengetahuan juga membuat anak-anak tidak “ngeh” pada gejala-gejala stroke. Dalam hal ini orangtua perlu jeli atau peka menangkap gejala-gejala yang tak biasa yang dialami anak. Misalnya, bicaranya tiba-tiba menjadi cadel, wajah jadi tidak simetris, kelumpuhan atau jalan yang diseret dan sebagainya.

Manfaatkan Golden Time

Pemahaman terhadap gejala-gejala awal stroke bisa menghindarkan anak dari dampak yang tidak diinginkan. Begitu orangtua curiga dengan kondisi anak, misalnya wajahnya menjadi asimetris, untuk mengetesnya apakah telah terjadi stroke, ada suatu metode deteksi dini yang disebut SeGeRa. Se artinya senyum yang asimetris, Ge artinya gangguan gerak, dan Ra artinya gangguan bicara.

Nah, bila gejala tersebut muncul, sebaiknya segera bawa ke rumah sakit. Ketahui rumah sakit yang menyediakan fasilitas lengkap untuk stroke. Pasalnya, empat jam pertama setelah terjadinya serangan stroke merupakan kesempatan terbaik atau jangka waktu ideal (golden time) untuk penanganan stroke. Lebih dari waktu itu, risiko kecacatan atau bahkan kematian pascaserangan stroke tentunya makin besar.

Maka, kalaupun tiba-tiba sang buah hati mengalami gejala khas yang mengarah pada stroke, kita tahu apa yang harus dilakukan sesegera mungkin sehingga penanganannya pun bisa tepat.